Mahasiswa Unhas Berkelahi

February 26th, 2008 by maqbulhalim

Salam Bego’
Bagusnya kalo Unhas membatasi masa kuliah mahasiswa hanya 3 tahun
maksimal, lewat dari itu, ter-DO secara otomatis tanpa kompromim. Beban
volume SKS tidak berubah (150 SKS), yang berubah hanya masa kuliahnya
yang maksimal 3 tahun itu. Kemudian, mahasiswa harus dibebani dengan
tugas-tugas kuliah sebanyak minimal 6 tugas per minggu. SPP minimal Rp
2,0 juta untuk non eksak dan eksak minimal Rp 2,5 juta. Hapus semester
pendek. Hapus organisasi senat dan himpunan dan kembangkan kegiatan
potensi keahlian seperti UKM-UKM. Berlakukan jam malam untuk kegiatan
apa pun di dalam kampus, kecuali atas izin rektor bagi kegiatan yang
terkait dengan perkuliahan (kurikuler). Kriminalkan kegiatan mahasiswa
di luar kampus yang mengatasnamakan universitas. Bangun Polsek Pembantu
di dalam kampus. Rektor dan perangkat akademik tidak boleh mengurus
masalah kriminal mahasiswa di dalam kampus karena sudah ada kantor
polsek. Kenakan skorsing bagi mahasiswa yang terbukti melakukan
publikasi seperti spanduk, poster, stiker, yang tidak ada kaitannya
dengan kegiatan kurikuler, apalagi kalau hanya untuk kegiatan
ekstrakurikuler. Persenjatai SATPAM dengan senjata gas untuk
melumpuhkan. Rektor bersama Polwiltabes membentuk tim Intel Kampus
secara terpadu. Singkirkan kantin-kantin dari kawasan gedung
perkuliahan, dan tempatkan di luar area gedung perkuliahan
(direkomendasikan ke luar kampus). Hapus angkutan kampus yang selama
ini beroperasi. Kampus Unhas kerjasama dengan pihak swasta seperti SUN
PARKING untuk kelola per parkiran kampus.

Bonus:
1.
Hanya mereka yang betul-betul pintar dan cerdas yang bisa lulus masuk
unhas dengan biaya keseluruhan pendaftaran non SPP pertama minimal Rp
10 juta
2. Ujian semester dan ujian akhir harus dipersulit sebagai tanda keseriusan akademik
3.
Dosen-dosen yang mengurus proyek di luar tugas akademik dan izin
kampus, harus digugat perdata oleh Unhas, dan menetapkan rumah milik
dosen yang bersangkutan (rumah Hak Milik) sebagai jaminan sita.
4.
Mahasiswa yang terbukti merusak fasilitas kampus, otomatis kena DO
tanpa kompromi sambil membebani denda sebesar miminal Rp 2 juta..

Masih
adakah waktunya mahasiswa berpikir untuk tawuran kalau seperti itu
kampusnya. Saya kira, fakultas kedokteran Unhas sudah hampir seperti
itu.

—– Original Message —-
From: Nirma Hasyim <nirmalaviola@ gmail.com>
To: identitas_unhas@ yahoogroups. com
Sent: Tuesday, 26 February, 2008 9:39:09 PM
Subject: Re:
[identitas_unhas] Perang lagi di Unhas

   
            

Ikut coddo’
Kebetulan kemarin pagi saya ke kampus, untungnya pas tawuran belum mulai.
Seperti ahmad bilang, dilematis-nya ketika ada kegiatan yang positif
justru tidak didukung fakultas dan universitas. Padahal siapapun tahu,
dunia mahasiswa adalah dunia dinamika. sehingga seharusnya (memang
tugas) universitas ada mewadahi dinamika ini, bahkan mendorong. Jadi
energi berlebih yang tidak disalurkan ke positif ini…salah satunya
tersalur menjadi budaya tawuran. Rasanya hal ini sudah bertahun-tahun,
mungkin sebelum saya kuliah sudah dibahas. tapi toh…tawuran tetap
menjadi budaya. kata salah seorang teman alumni fk, kadang-kadang
alumni juga ikut memanas-manasi.
yah….kadang- kadang menjadi pesimis, apakah selamanya tawuran akan
menjadi salah satu kalender akademik mahasiswa unhas (meminjam istilah
yang dulu sering kita pakai di identitas).

nh

On 2/26/08, ahmad syamsuddin <ak_syam@yahoo. com> wrote:

 

   
            

IYA
BANG…padahal jago juga tawwa anak-anak unhas bikin robot. kemaren
saya liput buat trans tv. mereka bikin robot dgn biaya seadanya, dari
tabungan mereka bahkan. sementara kampus seperti tidak terlalu
peduli untuk membantu mereka supaya berkembang.. .

 

 

 

jadi agak dilematis saat melihat adik2 baku lempar tadi, tapi mau diapa…

 

semoga tidak berlarut-larut. harus ditumpas sampai ke akarnya. akra kekerasan yang terus diwariskan turun temurun…

 

 

 

pisss!!!!

arif usman <arifuddinusman@ yahoo.com> wrote:

 

 
 
aduh unhas…
tapi seperti diungkapkan kak Zohra..banyak hal yang
tak terungkap…

seperti juara di KONTES ROBOT..
* Keberhasilan �Ahli� Robot Teknik
Elektro Universitas Hasanuddin Dalam Kontes Robot
Indonesia (Kri) 2006
http://www.unhas.
ac.id/lama/ berita.php? id=94&judul=%20Keberhasil an%20%EF%
BF%BDAhli% EF%BF%BD% 20Robot%20Teknik %20Elektro% 20Universitas%
20Hasanuddin% 20Dalam%20Kontes %20Robot% 20Indonesia% 20
(Kri)%202006

* ….Kalau disimak sepintas, tentu sepertinya tim KRI
ITB kalah telak dalam KRI, apalagi sampai dikalahkan
oleh tim UNHAS dan lagi2..

http://www.ia- itb.com/node/ 467

www.kri.eepis- its.edu/hasilsel eksi2.php
dll

— Zohra Andi Baso <zohrabaso@hotmail. com> wrote:

>
> Jangan gitu dong, yang berkelahi tentu
> saja kita anggap tidak beres, tapi saya kira Unhas
> juga tidak selalu jelek… ada juga diantara mereka
> yang berprestasi, sayangnya.. kurang terekspos.. ayo
> Lan Humas Unhas, sebut-sebt juga perestasinya
> mahasiswa Unhas… pasti ada..
> salam lestari, Zohra Andi Baso
>
>
> To: identitas_unhas@ yahoogroups. com;
> alumni-unhas@ yahoogroups. com;
> unhas-ml@yahoogroup s.com
> From: tomi_lebang@ yahoo.co. uk
> Date: Tue, 26 Feb 2008 14:06:05 +0700
> Subject: [identitas_unhas] Perang lagi di Unhas
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> anak unhas perang lagi, anak unhas
> tawuran lagi …. rasanya, kabar dari
>
> makassar selalu kabar buruk.
>
>
>
> salam damai
>
>
>
> Tomi

Menuju 01 Makassar 2008

February 21st, 2008 by maqbulhalim

Saya sudah menyaksikan berbagai baligo, spanduk dan poster yang menjajakan wajah orang-orang yang yakin dapat terpilih menjadi walikota atau wakil walikota. Semuanya beragam, tergantung dari seragam yang mereka gunakan, atau panorama yang melatari gambar/foto mereka. Ada tiga dari mereka yang menurutku adalah sahabatku: Adil Patu, Ilham Arief Sirajuddin, dan Zulkifli Gani Ottoh. Selebihnya adalah teman saya juga seperti Jaffar Sodding, Abraham Samad, dan Busra Abdullah.

Ilham adalah ketua DPD Partai Golkar Kota Makassar. Sebelum ia terpilih sebagai walikota Makassar melalui Perlemen tahun 2004, ia adalah calon anggota terpilih DPRD Kota Makassar melalui Pemilu Legislatif 2004 dari Daerah Pemilihan (DP) III: Kec. Panakkukang dan Kec. Manggala. Ketika itu, ia juga sudah menjabat sebagai ketua DPD Partai Golkar Kota Makassar. Pada Pemilu 1999, Ilham juga terpilih untuk duduk sebagai wakil rakyat di perlemen propinsi Sulsel untuk tahun 1999-2004. Ketika ia menjadi legislator itu juga, saya sempat bertemu beberapa kali di kantor tabloid berita tempatku bekerja sebagai wartawan.

Zulkifli Gani Ottoh adalah kolega saya di KPU Kota Makassar. Sampai sekarang, ia masih menjabat sebagai ketua. Ia menyandang jabatan di berbagai organisasi. Tahun 2007, ia terpilih sebagai ketua PWI Sulsel. Ia juga menjadi komisaris pada berbagai perusahaan yang tergabung dalam korporasi bisnis FAJAR Grup. Saya mengenal Pak Ottoh kira-kira sembilan tahun silam, yakni sekitar tahun 1999. Waktu itu, ia bersama koleganya di Harian FAJAR menjadi seteru Nurdin Halid, pemilik tabloid berita tempat saya bekerja sebagai wartawan.

Ada lagi sahabatnya yang bernama Adil Patu. Saya belum terlalu lama mengenalnya. Saya baru mengenal dia kira-kira tujuh tahun silam. Itu pun karena ia akrab dengan Pak Darwis (dosen dan senior saya di Fisip dan Identitas Unhas), dan juga dengan kawan-kawan saya seperti Syamsu Rizal MI dan Kahar Gani. Pada awalnya, saya lebih banyak mengenalnya sebagai kader Golkar yang dikarbit-orbit oleh Marwah Daud Ibrahim. Saya akhirnya banyak berinteraksi dengannya ketika saya di Elsim Makassar sebagai peneliti media.

Setelah terpilih sebagai anggota KPU Kota Makassar periode 2003-2008, saya pun semakin banyak berinteraksi dengan mereka. Ketika Pemilu Legislatif 2004 sedang menderu, Adil Patu merasa kurang beruntung. Berbagai analisis hasil Pemilu tidak menyebut politisi yang satu ini berhasil mendapatkan kursi di perlemen Sulsel. Demikian juga hasil penghitungan sementara yang lansir oleh harian FAJAR, Pedoman Rakyat dan Tribun Timur, politisi yang hengkang dari Golkar Sulsel pada 2002 ini juga tidak dinominasikan sebagai calon anggota legislatif DPRD Sulsel dari Partai PDK yang bakal mendapatkan kursi.

Di sinilah, Adil Patu mampu mendesain teka-teki yang kian hari, kian sulit dijawab. Saya sendiri waktu itu (April 2004) sebagai anggota KPU Kota Makassar juga terperangkap kebingungan. Adil Patu memperoleh kursi di DPRD Sulsel dari Partai PDK untuk Daerah Pemilihan Sulsel I: Kota Makassar. Ia meruntuhkan dan merobohkan prediksi media dan analis. Ia, kira-kira, berdiri tegap bagai kesatria menunggu penantang sambil berkata: "Bukan hanya Golkar yang bisa memberiku kursi, diriku juga mampu." Saya sendiri tidak menemukan manfaat ketika hendak mencari tahu, penyebab apa gerangan sehingga Adil Patu memperoleh kursi di DPRD Sulsel untuk periode 2004-2009.

Beberapa pihak menduga bahwa kursi itu diperoleh Adil itu adalah berkat keterlibatannya dalam koalisi yang diberi nama "LINTAS PARPOL". Suatu koalisi yang setidaknya menghimpun beberapa partai politik peserta Pemilu Legislatif 2004 Kota Makassar seperti PSI, Partai Demokrat, PAN, PDI Perjuangan, PNBK, PDS, dan seterunya. Koalisi ini sendiri digagas oleh Reza Ali, Ketua Partai Demokrat Sulawesi Selatan. Belakangan setelah koalisi itu terbentuk, bergabung pula Adil dengan menggandeng Partai PDK-nya. Meski Adil adalah tamu yang baru saja memasuki "ruang koalisi", ia mampu meyakinkan penghuni lama untuk mempercayainya sebagai koordinator Lintas Parpol. Praktis setelah itu, ia menjadi satu-satunya orang yang memegang setir kendali Lintas Parpol, sekaligus membatasi akses Reza Ali dalam koalisi. Akhirnya, koalisi yang dibentuk oleh Reza Ali ini hampir menjadi milik Adil Patu.

Mereka, partai-partai dalam koalisi itu, menyeruduk kantor PPK Kec. Manggala dan membawa kabur beberapa barang inventaris kantor kecamatan. Beberapa orang, seperti petugas PPK di kantor kecamatan, melihat Adil Patu bersama massa Lintas Parpol yang menggerubuti kantor kecamatan ketika itu. Ia bersama massa koalisi juga sempat menyandera masyarakat dan anggota PPS Kelurahan Pai Kecamatan Bringkanaya yang tengah merekap hasi penghitungan suara TPS-TPS. Adil dan massa koalisinya melakukan penyanderaan itu di kantor Kelurahan Pai selama sekitar dua jam. Demikian pula ketika itu, Adil dan massa Lintas Parpol-nya juga sempat menduduki kantor KPU Kota Makassar. Di selama "pendudukan" itu, Adil memimpin penghitungan ulang beberapa kota suara tanpa memperdulikan mekanisme yang ada dalam UU Pemilu No. 12 Tahun 2003. Saya menamai kegiatan itu dengan istilah "MENGHITUNG SENAK UDELNYA". Selama dua hari itu, kantor KPU Kota Makassar menjadi lebih semraut dari pasar tradisional yang tidak terurus dan terawat. Saya belum mengerti sampai sekarang, pihak mana yang memberi mereka peluang untuk melakukan penghitungan ulang itu? Dan, apa pula yang melatari sehingga Ketua KPU Kota Makassar, Zulkifli Gani Ottoh; Koordinator Lintas Parpol, Adil Patu; dan Ketua Panwas Kota Makassar, Ma’ruf Hafidz, berangkat ke Jakarta untuk mengkonsultasikan berbagai hal yang dipermasalahkan oleh froum Lintas Parpol ini.

Berdasarkan analisis Litbang media-media cetak lokal sebelum rapat pleno penetapan suara oleh KPU Kota Makassar dan KPU Propinsi Sulsel, saya dapat mengatakan bahwa Partai PDK Propinsi Sulsel dan Partai PDK Kota Makassar mendapatkan masing-masing satu kursi setelah berbagai kegiatan Forum Lintas Parpol itu. Sebaliknya, hasil yang dicapai forum Lintas Parpol yang dikoordinir oleh Adil ini justru mengecewakan Reza Ali. Pasalnya, kata Nuryanto G. Liwang (sekretaris Partai Demokrat Kota Makassar) setahun setelah Pemilu 2004, Forum Lintas Parpol ini digagas oleh Reza Ali bersama beberapa parpol lain untuk mempertahankan satu kursi DPRD Kota Makassar dari DP III (Kecamatan Panakkukang dan Manggala) yang bakal diperoleh Partai Demokrat. Beberapa bulan setelah penetapan kursi untuk DPRD Kota Makassar oleh KPU Kota Makassar, Reza Ali baru mengetahui bahwa forum Lintas Parpol ternyata tidak memperhatikan satu kursi yang terancam lepas dari Partai Demokrat tersebut. Akhirnya, Partai Demokrat Kota Makassar kehilangan satu kursi DPRD Kota Makassar itu, dan beralih ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). PPP tidak bergabung dengan koalisi Lintas Parpol.

Akhirnya, Adil Patu dilantik sebagai anggota DPRD Sulsel 2004-2009. Ia kembali mendapatkan status "terhormat" sebagai wakil rakyat Sulawesi Selatan, mewakili rakyat di Kota Makassar yang sebagian sangat kecil memilih Partai PDK. Panggung yang disebut kantor DPRD Sulsel itu, kembali hadir di hadapan Adil Patu. Jurus-jurus legislator Adil kembali terhunus dan siap mengayun-tebas pada argumen-argumen pejabat ekskutif Pemerintah Daerah Propinsi Sulawesi Selatan. Ia bukan lagi Golkar di panggung itu. Ia adalah "Golkar Putih".

Saya juga punya kesan tentang Adil Patu yang sangat berarti untuk memahami politisi yang satu ini di tahun-tahun berikutnya. Momen itu adalah program Temu Konstituen yang dijalankan oleh CETRO di Makassar pada 2001. Saya sendiri terlibat sebagai sekretaris program. Waktu itu, CETRO bermitra dengan Polling Center (lembaga yang dibentuk H.M. Darwis, MA, DPS) untuk melaksanakan beberapa kegiatan rangkaian. Salah satunya rangkaian kegiatan adalah Perbincangan Radio (Talk) di Mercurius FM. Saya lupa dengan dipanel dengan siapa Adil Patu waktu. Pada prinsipnya, Adil Patu berusaha meyakinkan publik bahwa masyarakat, termasuk masyarakat Sulawesi Selatan, belum siap untuk memilih langsung kepala daerahnya. Pernyataan itu juga masih diulang ketika ia berbicara di Delta FM dan Independen FM. Banyak alasan yang dikemukakan untuk menguatkan pernyataannya. Saya menilai waktu itu, ia tidak mempercayai rakyat Sulsel bahwa mereka bisa dewasa menentukan pilihannya.

LIMA bulan bekalangan ini, Adil Patu kian gencar mengumumkan dirinya sebagai calon Walikota Makassar untuk periode 2009-2014. Hasratnya menyerupai badai: bergetar, tapi tetap pelan. Ia menggebrak tapi tak menabrak. Saya salut, lalu kemudian bangga. Ia nyata bergerak tetapi tetap rumit dipahami: ke arah mana, dengan cara apa, dan mampukah ia berjalan? Apa pun yang terjadi, Adil Patu telah mampu menyapa, dan juga tersenyum, dalam diam dan kaku di setiap sudut jalan dan lorong-lorong gelap di kota Makassar. Di gambar dan foto itu, Adil Patu tidak pernah marah, cemberut, atau terlihat sinis. Ia ramah, penuh sahabat, rapi-necis, dan ada keyakinan yang kuat dari pancaran matanya.

Ia juga sempat melepaskan beberapa tetes "air gula" kepada teman sejawatku, Zulkifli Gani Ottoh. Kepada Ottoh, Adil berkomitmen di akhir 2007 untuk menjadikannya sebagai wakilnya pada Pemilu Pilkada Walikota Makassar tahun 2008 ini. Belakangan saya memahami bahwa komitmen itu  sangat rapuh, mengambang seperti serat kapas yang terburai di angkasa. Meski seperti itu adanya, Adil mampu memberi keyakinan kuat sehingga Ottoh tidak mampu meragukan segala-galanya dari Adil. Awal Februari lalu, Nurmal Idrus (wartawan Berita Kota Makassar) mengaku kepada saya bahwa paket pasangan Adil - Ottoh adalah cerita yang tidak akan pernah ada. Nurmal  mengagumi firasatku setelah mengambil kesimpulan seperti itu.

Ia juga kian rajin menyusup ke rumah-rumah penduduk miskin di kota Makassar. Ia tidak perduli larut malam atau siang bolong. Beberapa bulan yang lalu, mungkin sekitar empat bulan, ia tidak seperti itu. Ia biasa-biasa saja terhadap siapa pun. Ia hanya seorang mantan guru yang bisa akrab dengan tokoh-tokoh elit dan feodal. Dulu, sejak 2004, hidupnya tidak pernah tersandra oleh derita miskin yang dialami oleh penduduk kota Makassar yang kurang beruntung. Sebelum mengutarakan niatnya menjadi calon walikota di akhir 2007 lalu, ia hanya minta restu dari mantan calon gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Bukan kepada orang miskin atau warga kota Makassar ia meminta restu.

Tenri Naik Kelas

September 26th, 2007 by maqbulhalim

Tenri
Senin, 24 September 2007, saya bangun telat. Suhu di kamar tidurku kira-kira memberitahuku bahwa hari sudah menjelang siang. Gerah dan cahaya matahari di luar rumah sudah terik. Sebagian tidur pulasku memang harus saya sumbangkan untuk berhelat sahur dalam rangka puasa Ramadhan 1428 H. Apalagi, saya juga baru lepas dari belitan perbaikan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilgub Sulsel 2007 yang nyaris tidak memberiku momen istirahat selama lebih sepekan berturut-turut.

Pagi itu, saya menyempatkan diri membersihkan mobil dari debu dengan sapu bulu. Suara cekikikan Ato dan Abi (anak saya yang kedua dan pertama) kedengaran sedang bermain dengan anak tetangga. Ketika mendengar mesin mobil menderu karena dipanasi, mereka langsung menghambur datang menyerbu masuk ke dalam mobil. Mereka berlomba memencet yang bisa mereka pencet di kabin mobil. Meski begitu, saya masih meragukan kemampuan mereka meng-"switch on"-kan handphone GSMku yang masih berstatus "idle". Seperti biasa, kantor KPU-ku selalu menyerbuku melalui HP GSMku setiap hari Senin.

Pukul 11.00 siang itu, saya mengantar Uminya Abi belanja di toko ritel Hypermart, Panakkukang Mas. Padahal, HP GSM-ku masih terus meraungkan alarmnya, menandakan bahwa pada hari itu Tenri sedang menjalani tahapan Fit and Proper Test untuk mengisi kursi lowong di KPU Propinsi Sulsel yang ditinggalkan oleh Aidir Maret 2007. Tapi, saya juga harus mengantar Uminya Abi belanja. Saya tidak mengerti kemudian, saya ternyata memutuskan mengantar Uminya dan sekaligus memutuskan tidak menghadiri proses tes yang dijalani Tenri pada hari itu. Setelah proses test itu, saya mendapatkan beberapa kabar bahwa saya diduga tidak menghendaki Tenri menanjak menjadi anggota KPU Sulsel. Bagi saya, dugaan itu beralasan karena sayalah satu-satunya anggota KPU Kota Makassar, kolega Tenri, yang tidak hadir pada proses test yang berlangsung di KPU Sulsel Jl Pettarani itu.

Sembari menyetir mobil meninggalkan Hypermart Panakkukang Mall, HPku berdering menerima SMS dari Syahrir Makkuradde. Uminya Abi yang membaca isi SMS itu: Innalillahi wa Innailaihi Rajiun, telah berpulang ke Rahmatullah bapak Prof. Dr. Zainal Abidin Farid".  SMS itu kuforward ke Wahuddin Halim (Kakak kandukungku). Wahyu berkomentar singkat: "Kita telah kehilangan seorang filosof besar dari Sulsel. Kehilangan kita kali ini, sulit tergantikan." Hari itu, saya tetap tidak bisa melayat karena mengantar Uminya Abi.

Dalam perjalanan pulang ke rumah menembus terik sinar matahari yang menyengat, tubuh saya masih terbebani rasa letih, dan terjangan kantuk masih sesekali datang. Saya terus berpikir tentang proses tes yang tengah dijalani Tenri. Bagaimana ia selanjutnya bila betul-betul lolos dan lansung dilantik pada hari itu? Bagimana dengan peran-perannya yang "non-interchangeble" di KPU Makassar selama ini? Setelah menurunkan belanjaan dan Uminya Abi di rumah, saya segera balik menuju kantor. Pikiran-pikiran tentang kemungkinan Tenri mengenai tes itu masih terus berkecamuk.

Setelah beberapa saat di kantor menyelami hawa dingin AC ruang kerjaku, Kak Pahir masuk. "Maqbul, Tenri sudah jadi anggota KPU Propinsi Sulsel. Ia dilantik tadi setelah dinyatakan lolos dalam Fit and Proper Tes," kata Kak Pahir sembari melipat kedua tangannya di dada.

Saya termangu mendengar kabar itu, sekaligus sumriga. Saya menemukan, sepertinya diriku tidak siap mendengar kabar itu. Dan memang. Saya memang kerap mengabaikan niatan Tenri ini, dan memilih berpikir lain.

Dulu, empat bulan silam, Tenri bertanya kepada saya: "Bul, setujukah kau kalau saya mendaftar untuk menjadi calon pengganti Pak Aidir di KPU Sulsel?"

Tenri mendatangi ruanganku ketika itu, hanya untuk menanyakan niatannya itu. Suaranya pelan, dan juga parau. Ia setengah berbisik, tetapi seperti juga memohon. Saya memang sempat bingung memberi jawaban, karena ia tidak jelas: bertanya atau memohon. Dari sekian jenis kabar yang mampir, saya sebenarnya telah mengetahui beberapa hal. Tenri telah memulai dan tentu ia tidak ingin kembali. Ia telah memberi pengakuan, baik kepada saya dan teman-teman di KPU Makassar, maupun koleganya di Jakarta yang saban hari sangat penting bagi Tenri untuk mengalahkan pesaingnya. Ia telah menyelesaikan pernyataannya, sekaligus memasukkan berkasnya. Ya, Tenri sudah jauh dan kemudia ia datang bertanya.

"Saya sangat ingin, Bul ikhlas menjawab," kata Tenri berusaha meyakinkan.

Tapi, hematku ketika itu, jawaban apa gerangan yang ia butuhkan? Bukankah ia telah melaju dan juga telah jauh? Jika ia ingin membatasi dirinya dengan jawabanku, bukankah ini sudah terlambat. Lantas, akankah ia urung ketika saya bersungut, tanda bahwa ia sebaiknya menyelesaikan pekerjaannya di KPU Makassar? Tapi, ketika itu, saya yakin bahwa apapun yang hendak kukatakan di hadapan pertanyaannya, Tenri akan terus berjalan. Saya tiba-tiba ingat serangan Margaret Thacher di parlemen kepada kalangan oposisi,  "Please turn if you want to. But the ladies, not for turning."

Dan. Saya memberi jawabanku yang berasal dari kebutuhannya. Ia mangut dan berterima kasih. Ia girang meninggalkan ruanganku, seperti baru pulang dari sebuah kemenangan, seperti sedang mengusung harapan. Ia juga tidak tahan mengatakan bahwa dirinya sangat bangga pada saya sebagai kawan yang sangat memahami. Saya memang tahu, ia lebih butuh dipahami ketimbang dibantu. Setelah itu,  ia mungkin terus melaju. Mungkin ia juga tidak merasa perlu tahu apa jawabanku yang sesungguhnya. Sama halnya, saya tidak mengerti mengapa Tenri sangat membutuhkan saya untuk menjawab.

Sekarang, Tenri akhirnya dilantik. Air muka Kak Pahir pun juga datar ketika mengabarkan pelantikan Tenri.

Saya bangga, temanku sekantorku, teman seperjuanganku di Ornop, temanku sebagai jurnalis, dan sebagainya, akhirnya berhasil menapak menjadi anggota KPU Sulawesi Selatan. Tapi saya juga bersedih. Tenri sangat berarti bagi saya sebagai anggota KPU Kota Makassar. Mungkin ia lebih sangat berarti bagi Ketua KPU Kota Makassar, Zulkifli Gani Ottoh. Saya jadi berpikir bahwa ada beberapa hal tak dapat kami lakukan segera di KPU Makassar setelah Tenri harus berpindah tempat kerja. Ia tidak hanya sekadar hadir, tapi memberi arti. Ia tidak mampir, melainkan membangun kehidupan.

Tenri kadang-kadang radikal ketika berhadapan dengan suatu masalah di KPU Kota Makassar. Ia tidak pernah lelah mengejar sesuatu hingga suatu permasalahan betul-betul dikenali dengan baik. Ia mampu berpikir dalam situasi yang paling rumit, meski pun pertimbangan-pertimbangannya kerap simplistis. Ia memang jarang memasuki area perdebatan karena ia gampang lumpuh ketika harus mengurai masalah-masalah yang sifatnya teoritis dan konsepsional. Karena itu pula, ia lebih banyak memilih lebih banyak bekerja. Saya pernah mencatat keluhan Tenri:

"Menurutku tidak usalah banyak bicara. Semua ini saya tidak mengerti," keluh Tenri pada suatu rapat di KPU Kota Makassar yang membahas penggantian tiga calon terpilih dari Partai Golkar untuk DPRD Kota Makassar.

"Lebih anda-anda berterus terang, maunya anda ini apa? Saya tidak mengerti politiking," kata Tenri memotong setelah perdebatan alot selama setengah jam.

Waktu itu, saya dan teman-teman di KPU Makassar sedang berdebat mengenai beberapa rujukan hukum yang dimungkinkan menjadi acuan dalam proses penggantian calon terpilih tersebut. Akselerasi Tenri untuk mengikuti perdebatan itu rupanya rupanya tidak mumpuni. Ia kemudian kalut dalam pikirannya mendengar berbagai argumen. Ia hanya bisa berpihak kepada mereka yang tertindas, kepada tiga orang yang akan digantikan itu. Tenri hanya mengerti bahwa yang menginginkan penggantian itu adalah kawanan penindas. Ia tidak ingin berpikir rumit dan nyelimet. Ia ingin praktis tapi tidak menindas. Ia ingin saya dan teman tidak banyak menyusun alasan untuk menutupi berbagai hal. Padahal sebenarnya, kami tidak menutupi suatu hal. Kami hanya hati-hati karena ini masalah hukum. Di "ruang hukum" inilah Tenri tidak masuk.

Selebihnya, ia mampu bekerja dengan konsentrasi yang terpecah. Saya biasa berpikir, untuk bergerak seperti Tenri, saya mesti membagi diri saya menjadi lima, paling tidak.

Ia juga kerap mengekspresikan tanggung jawabnya melebihi dari yang ia miliki. Di akhir kegiatan verifikasi entry data pemilih DPT di KPU Makassar untuk Pilgub Sulsel 2007, saya sempat bersitegang dengannya. Ia terlalu banyak menjalankan kewenangan saya sebagai ketua Pokja Pemutakhiran Data Pemilih, sementara saya tidak penah memberinya mandat untuk melakukan itu. Kalau ada sikap pembiaran dari saya, itu sesungguhnya adalah siasa rasa tenggang yang memang kusiapkan untuk sikap-sikap yang Tenri yang sudah sering seperti itu.

Tapi, Tenri sebenarnya tidak mengembail kewenangan orang lain, atau kewenangan saya. Ia sangat gampang dirundung cemas ketika masalah timbul. Ia tidak bisa berdiam diri ketika ia memastikan bahwa ada satu atap, tempat dimana kita bernaung bersama. Atap itu bernama KPU Makassar. DPT KPU Makassar paling dikenal rumit dan gemuk. Saya sendiri mengakui, saya banyak menghadapi masalah dalam pemutakhiran DPT: organisasi kerja, dukungan sekretariat, tenaga ahli IT, sampai peran lurah dan camat se Kota Makassar yang mengecewakan. Di tengan situasi ini, Tenri rupanya tidak bisa berdiam diri. Ia tidak lagi memikirkan kewenanganku sebagai ketua Pokja. Yang ia pikirkan adalah nasib KPU Makassar dalam soal pemutakhiran DPT. Lalu, ia pun bergerak dan jauh lebih cepat. Kantor pun berjumpalitan.

******

Tadi malam, saya menemuinya di Pizza Ria (Boulevard, Panakkukang Mas), di pesta ulang tahun Yuri, putri pertamanya. Ia sedikit berubah. Ia berusaha bersikap lazim terhadap saya seperti halnya ketika masih di KPU Makassar, tapi sikap gugub masih sesekali terselip dalam gerakan-gerakan tubuhnya.

Kotamobagu dan APBD-nya

August 4th, 2007 by maqbulhalim

Kota Kotamobagu adalah kota yang adem tetapi tetap menggeliat. Saya merasakan suasana tersendiri ketika tiba di Hotel SENATOR. Suasana berbeda itu menjadi lebih terasa ketika bangun pagi, suatu pagi di hotel itu yang menanti saya bangun mencicipi hidangan sarapannya.

 

Mengapa berbeda? Hidangan sarapan pagi yang menanti saya bangun ternyata berada di ruang lobby hotel. Ketika tamu beranjak masuk di pintu utama ruang lobby, mereka lebih dahulu disambut oleh meja hidangan sarapan. Setelah mereka kemudian maju beberapa langkah ke depan, barulah mereka berhadapan dengan front-desk petugas resepsionis. Setidaknya, pada saat saya menikmati hindangan sarapan pagi, beberapa tamu hotel yang masuk melalui pintu itu saya ajak sarapan bareng. Adakah saya terganggu dengan situasi sarapan pagi yang berbeda itu? Saya sudah sudah putuskan untuk tidak menjawabnya pada kesempatan ini.

 

Img_1868aApa lagi yang lain yang berbeda? Hmm, sebenarnya banyak. Tapi yang penting bagi saya adalah kemunculan mobil dinas (plat merah) merek Toyota Kijang tipe Innova ketika saya masih sarapan pagi di hari pertama saya di kota itu. Awalnya, hingga ketiga kalinya muncul, mobil itu tidak begitu menarik bagi saya. Ia betul-betul hanya mobil kijang, seperti mobil dinas kijang yang sering saya temui di mana-mana. Mery, seorang pegawai Yayasan Lestari Manado, mengatakan pada saya bahwa mobil yang telah saya perhatikan berkali-kali itu ternyata milik salah seorang pimpinan DPRD Bolaang Mongondow.

 

“Apa pemilik mobil dinas itu memang tinggal di hotel ini?” saya bertanya kepada Mery pada hari kedua keberadaan saya di hotel tersebut.

 

“Bukan begitu,” jawab Mery. “Hotel ini dimiliki oleh seorang pimpinan DPRD itu dan mobil dinas yang ia gunakan itulah yang menjadi mobil operasional hotel ini, misalnya ketika mengantar makanan dan kebutuhan hotel lainnya,” jelas Mery.

 

Saya menjadi terperangah mendengar jawaban Mery itu. Saya sama sekali tidak pernah berpikir tentang mobil dinas milik pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow itu menjadi mobil operasional Hotel Senator, badan usaha yang bukan milik pemerintah. Saya juga tidak pernah menemukan mobil itu kelihatan gugup dan canggung memasuki hotel secara reguler dengan status plat merah. Begitu enteng tapi serampangan.

 

Kota ini, pada hari kedua kehadiran saya di kota itu, menjadi makin berbeda ketika mengobrol dengan Yuyun Wahyuni, seorang aktivis dari Swara Bobato, Kota Kotamobagu. Dirinya, kata Yuyun, miris dan geli karena harus menjawab pertanyaan saya:

 

“Kata Rio, anggaran pemberdayaan perempuan pada APBD Kab. Bolaang Mongondow 2007 itu mencapai Rp 4 miliar! Apa itu benar?”

 

Yuyun membenarkan besaran anggaran itu, namun membubuhkan catatan penting. Anggaran itu, kaya Yuyun menjelaskan, sebenarnya hanya ruang titipan. Sebanyak Rp 3 miliar dari total anggaran itu adalah titipan untuk pembiayaan klub Persibom. Yanti dan Rio, masing-masing koordinator fasilitator dan direktur yayasan lestari, membenarkan adanya jumlah anggaran pemberdayaan perempuan itu.

 

Saya menimpali, “Mungkin sebagian besar orang tidak tahu, kalau ternyata pemain-pemain Persibom itu adalah perempuan!”

 

Yuyun, Rio, dan Yanti pun terbahak mendengar timpalanku. Tapi sesungguhnya mereka kesal dengan anggaran yang terkesan konyol itu.

 

Img_1873a Saya berada di Kotamobagu selama tiga hari. Saya tiba di Bandara Internasional Sam Ratulangi pada pukul 22.30 wita (Rabu, 18 Juli 2007) dan dijemput oleh staf Lestari Manado, Om Deky. Malam itu, saya langsung menuju Kotamobagu dengan melewati Kota Tondano. Di Tondano, kami menjemput Arnold Winowatan. Dalam situasi normal, perjalanan dari Tondano ke Kotamobagu ditempuh dalam waktu empat jam. Malam itu, Arnol hanya menghabiskan waktu dua jam setengah.

 

Kota Kotamobagu awalnya adalah pusat pemerintahan sekaligus kota Kabupaten Bolaang Mongondow, propinsi Sulawesi Utara. Kota ini pernah kesohor sepanjang awal 2007 berkat klub sepak-bolanya, Persibom. Bukan main, klub yang bermain di divisi utama ini musim 2007 ini menelan pembiayaan hampir 80 persen dari total APBD daerah ini untuk tahun anggaran 2007.

 

Saya menganggap diriku beruntung karena sempat menginjakkan kaki di sebuah bukit. Warga Kotamobagu memberinya nama Puncak Pasi. Suatu lokasi perbukitan, di mana kita bisa melihat keseluruhan lokasi kota Kotamobagu yang berlumur cahaya lampu pada malam hari. Puncak bukit ini dicapai melalui jalan berbatu-batu yang terjal. Kami menggunakan kendaraan roda empat. Konon, kata Yuyun, lokasi bukit itu sudah dimiliki oleh salah seorang wakil ketua DPRD Sulawesi Utara. Oleh karena itu, tidak lama lagi, bukit tidak bisa dinikmati oleh masyarakat umum karena puncak bukit akan disulap menjadi villa.


Saya tidak berencana ke tempat itu, awalnya. Ketika saya dan Arnold mengantar Yuyun ke rumahnya, Yuyun menceritakan mengenai keindahan tempat itu. Saya kemudian menawarkan agar kami menunjungi tempat itu sebelum mengantar Yuyun pulang ke rumahnya.

 

Andaikan saya kembali ke kota ini di lain waktu, saya kira itu terjadi karena saya belum mengunjungi tempat ini. Mendengar ucapan itu, Arnold menambahkan dengan aksen Manadonya, “Juga kalo torang jadi dua di Kotamobagu!”.

 

Duka dan Panik di Tator

June 5th, 2007 by maqbulhalim

Petugas restoran Toraja Heritage Hotel menyambut saya pada pagi pukul 08.30, Sabtu 2 Mei 2007. Sembari tangan kiri saya tetap memegang tangan kanan Abi, tangan kanan saya juga menyerahkan kupon sarapan kepada petugas. Saya gembira ketika itu karena Abi selera makan Abi lebih besar dari biasanya. Pagi itu, anggota KPU Kota/Kabupaten dari seluruh Sulawesi Selatan sedang berjubel antri untuk sarapan pagi. Sesuai jadwal, kami semua akan mengikuti acara pembukaan Rapat Sosialisasi Undang-undang No. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu. Rapat ini digagas oleh KPU Sulsel dengan menggandeng LSKP Sulsel sebagai pelaksana kegiatan (Event Organizer).

Image_00031 Di tengah riuh sarapan pagi itu, tersiar kabar bahwa Pak Hasanuddin yang terjatuh di depan kamarnya ketika hendak menuju sarapan di restoran, telah meninggal di rumah sakit  Rantepao. Saya konfirmasi ke Ketua KPU Sulsel Mappinawang. Ia membenarkan bahwa salah seorang anggota KPU Pinrang, H. Hasanuddin S., SH., telah meninggal di rumah sakit, sesaat setelah tiba dari Toraja Hariget Hotel. Dari Ahmad Yani, Sekretaris Eksekutif LSKP, saya mengetahui bahwa Pak Hasanuddin meninggal karena penyakit stroke.

Pahir Halim, anggota KPU Kota Makassar dan sekaligus rekan saya di KPU Makassar yang ikut mengantar jenazah Hasanuddin ke Pinrang, ikut menambah sisi fenomenal kematian pensiunan PNS ini. Menurut pengakuan istri almarhum kepada Pahir di Pinrang ketika menerima jenazah suaminya, ia ditelepon oleh almarhum sekitar pukul 07.00 pagi (setengah jam sebelum detik kematiannya di RS). Ia berpesan agar istrinya menjaga anggota keluarga. Ia berpesan seperti itu pada istrinya karena dirinya akan "berangkat lebih dahulu". Setelah itu, bahkan, ia juga menelepon anak sulungnya yang berkerja di Kab. Soppeng agar menjaga adik-adiknya dengan baik.

Dua jam setelah itu, salah satu staf saya di KPU Makassar, Muslimin, juga mengalami gangguan kesehatan serius secara tiba-tiba. Ia terjatuh pingsan di Pasar Rantepao. Rekan-rekan kantor yang menemaninya di pasar ketika itu, langsung melarikannya kembali ke hotel. Di hotel, Mimin, sapaan akrab staf yang tengah menempuh studi S2 di Unhas ini, tidak mendapat perawatan apa-apa. Ketua KPU Makassar kemudian mengambil keputusan untuk melarikannya ke rumah sakit. Hingga di RS, Mimin belum sadarkan diri. Mulutnya mengeluarkan cairan berbusa putih, kejang-kejang, dan nafasnya tersengal-sengal.

Ia mulai sadarkan diri pada sore hari. Menurut analisa sementara tim dokter yang menanganinya, ia terkena penayakit yang umumnya dikenal dengan nama "Fertigo", suatu penyakit yang rentan terhadap sinar matahari siang, antara pukul 10.00 -  14.00. Ketika acara usai, Mimin dievakuasi ke Makassar dengan menumpang pada mobil saya. Sebelumnya, Mimin direncakan dievakuasi ke Makassar dengan menggunakan ambulance. Sayang pada Minggu itu, tak satu pun ambulans di Tator yang dapat dipakai untuk menempuh perjalanan dari Rantepao ke Makassar.

Saya betul-betul dirundung kepanikan. Apalagi, setelah saya hampir lalai. Abi yang mandi di kolam permandian untuk anak-anak milik hotel, ternyata tiba-tiba mengapung. Tidak bergerak, kaku, namun tetap berusaha bernafas. Melihat Abi yang demikian, saya langsung lompat ke kolam tersebut yang jarak permukaannya hingga ke dasar kolam hanya sebatas lutut orang dewasa ukuran tinggi orang Timur. Saya langsung membopongnya ke tepi kolam, lalu mengeluarkan air yang merasuk di mulut dan hidungnya. Ia baik-baik saja. Saya bersyukur.

Image_00026 Saya meninggalkan Rantepao menuju Makassar pada pagi, Minggu, 3 Mei 2007. Sebelum tiba di Makassar, kami mampir di Barru untuk makan siang di rumah Nurasia, salah seorang staff Kantor Sekretariat KPU Kota Makassar

10 Hari di Manado

April 29th, 2007 by maqbulhalim

Saya baru saja tiba di Makassar dari Manado tanggal 29 April 2007 setelah 10 hari di sana. Beberapa hari lalu saya diundang oleh Yayasan Lestari Manado untuk menjadi Juri pada pengarugerahan LESTARI AWARD 2007. Selain saya, Zohra A. Baso juga diundang.

Setiap kali ke Manado, saya selalu terkesan dengan jutaan pohon kelapanya yang tak pernah letih melambaikan nyiurnya. Itu pula mengapa setiap menjelang mendarat (take on) di Bandara International Sam Ratulangi, Manado, saya tak pernah ragu melahap dengan mata lambaian nyiur itu dari balik jendela pesawat. Pohon-pohon itu seakan menyerukan kepada tetamu kota Tinutuan di dalam pesawat yang hendak mendarat ini: "Selamat datang".

Kali ini, saya mengunjungi banyak tempat. Salah tempat yang sangat mengesankan saya adalah pulau Bunaken. Tepatnya adalah Taman Nasional Bunaken. Saya sendiri memilih menyebut kawasan itu sebagai hutan Terumbu Karang dengan segala kemolekannya yang belum saya temukan di tempat lain seperti Takabonerate. Kawasan ini betul-betul menyuguhkan suasana extraordinary. Sebuah taman laut yang kira-kira akan dibenci oleh monster perusak lingkungan hidup seperti pengusaha atau investor.

Manado termasuk kota yang lalai dalam pelestarian lingkungan hidup. Hampir seluruh panjang pesisir pantainya yang seindah Losari Makassar telah tiada. Saya masih ingat, kira-kira enam tahun silam, kota Manado betul-betul Water Front City. Setelah kemarin di Manado, saya harus mengeluarkan kocek untuk menyaksikan Sunset di tepi pantai Kota Manado. Sepanjang pesisir itu saat ini telah dipagari oleh kawanan Rumah Toko (Ruko) dan kawasan Mall.

Kalau saya ingin gratis, maka saya harus meninggalkan menuju keluar kota yang kira-kira jaraknya tiga kilo meter arah barat. Di kawasan luar kota itu, beberapa ruas masih bisa disinggahi untuk duduk-duduk menanti sunset ditelan gelap malam. Hanya saja, saya juga mesti rela berkalang sampah yang berserakan di pesisir. Saya kagum miris atas kota ini sebab perluasan kawasan bisnis justru meluas menutupi kawasan laut dan pantai. Reklamasi pantai menjadi sesuatu yang lazim di kota yang berjuluk TINUTUAN ini.

Menurut saya, kota Manado telah melangkah lebih jauh dalam soal pluralisme. Memang rumah ibada gereja lebih banyak ketimbang rumah ibadah agama lainnya seperti mesjid. Di kota ini, saya dapat mendengar suara azan mesjid dari kejauhan, meski jumlahnya sangat sedikit. Sangat lain dengan di Rantepao, Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, di mana suara azan tidak boleh kedengaran di luar dinding mesjid. Di kota ini juga, saya tidak menemukan adanya fanatisme yang mencolok antara Kristen Protestan yang mayoritas terhadap Katolik yang minoritas. Pemandangan seperti yang tidak saya temukan di Ambon, Maluku.

Rio Ismail, kawan sesama juri Lestari Award 2007 yang berasal dari Solidaritas Perempuan (SP), kerap memberikan pernyataan unik soal agama di Manado. Pria yang pernah bermukim di Manado selama 12 tahun hingga 2002 ini menyuguhkan jawaban atas pertanyaan saya dan jawaban itu sungguh di luar dugaan. Ketika kami melintas di Kota Tondano, saya mencoba mengapresiasi motto BERIMAN kota pesisir danau Tondano ini. Kota ini penduduknya mayoritas Protestan.

"Kira-kira apa artinya BERIMAN itu, Rio?"

"Ya, kalau masyarakat Sulawesi Utara itu, BERIMAN itu lebih banyak dilihat sebagai sinonim. Kepanjangannya: BERI aku minuMAN," jawabnya.

Suatu hari juga pada hari Minggu berkeliling kota Manado menumpang mobil Yanti, direktur Yayasan Lestari. Saya berujar, "Kota Mando betul-betul sepi pada hari Minggu!"

"Asal Bul tahu bahwa di Manado ini, pada hari Minggu, orang jahat dan orang baik sama-sama masuk ke gereja. Bedanya, orang jahat setor muka sedangkan orang baik setor doa. Jadi Bul, gereja tidak membedakan mereka," kata Rio menimpali.

Mahasiswa UMI Biadab

April 26th, 2007 by maqbulhalim

Saya berkali-kali berpikir, apa sih point of view sehingga Amarah di UMI itu selalu diperingati setiap tahun? Mereka tidak memperjuangkan apa pun dalam peringatan itu selain sehelai dendam terhadap aparat yang berbuat brutal ketika itu (1996). Ketika musim itu tiba di bulan April tiap tahun, warga Makassar selalu dirundung cemas. Mahasiswa UMI rupanya hanya perkasa di depan kampusnya, Jl. Urip Sumohardjo.

Selain itu, Mappajantji Amin yang sedang menjalani perawatan intensif, juga mendapatkan perlakukan yang tidak manusiawi dari mahasiswa UMI yang tengah memperingati AMARAH. Ini logika yang sangat goblok. Momentum kekerasan di kampusnya diperingati dengan tindakan biadab. Menurut saya, kalau pun mereka itu tidak bernurani, cukuplah mempunyai sedikit nalar. Sebuah komunitas di Makassar yang kerap mengedepankan kegoblokan dan kekerasan. Sulit rasanya berpikir bahwa mahasiswa UMI akan mendapatkan simpati dari masyarakat ketika memperingati AMARAH sembari menganiaya pengguna jalan di depan kampusnya. Itu lebih kejam dari pada tindakan tentara tahun 1996 yang diperingati itu. Apalagi kalau orang sakit yang sedang mejalani perawatan yang dipukuli. Setahuku, tentara NAZI yang lebih biadab dari setan itu, tidak sampai hati mencegat ambulans dan membantai pasien yang sedang dimuat. Tapi saya percaya, mahasiswa UMI telah melakukan itu, yang tidak mampu dilakukan oleh tentara NAZI.

http://www.tribun-timur.com/view.php?id=43768

========

Rabu, 25-04-2007

Putra Prof Mappadjantji Dikeroyok di DepanUMI
Makassar, Tribun — Anak Prof Dr Mappajantji Amin, Bayu Dewabrata (18), dikeroyok mahasiswa yang sedang demo memperingati April Makassar Berdarah (Amarah) di depan kampus UMI, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (24/40.
Anak Guru Besar Fakultas MIPA Unhas ini dikeroyok saat berupaya membongkar palang bambu yang dipasang mahasiswa melintang di jalan di depan kampusnya. Saksi mata di tempat kejadian mengatakan, pengeroyokan tersebut bermula saat mobil Toyota Fortuner yang disetir anak perempuan Mappajantji hendak melewati palang.
Mobil yang akan membawa Mappajantji ke RS Wahidin Sudirohusodo, mengangkut empat penumpang masing-masing Bayu, Mappajantji, salah seorang anak perempuan Mappajantji, dan seorang suster.
Karena dipalang, suster turun meberikan penjelasan ke para mahasiswa bahwa ada pasien di atas mobil. Karena tidak dibuka, Bayu turun dari mobil dan berusaha membongkar palang tersebut. Melihat hal itu, beberapa mahasiswa merasa tersinggung lalu mengeroyok Bayu hingga babak belur.
Mappajantji yang masih mengenakan infus, sambil memegang kantong infus, turun dari mobil untuk melerai. Tapi, malah nyaris menjadi korban. Bahkan tali infus yang dikenakan terlepas dan jatuh ke tanah.
Kepada Tribun, Mappajantji, mengatakan, keluar dari rumah sakit untuk melayat keluarga yang meninggal dunia. "Mana ada orangtua yang tega membiarkan anaknya dianiaya. Saya pun turun untuk melerai tetapi hampir saya juga kena pukulan dari mahasiswa. Untungnya masih sempat menangkis," katanya.
Mappajantji akan menuntut hingga ada penyelesaian tuntas mengenai kasus tersebut. "Ini tidak bisa dimaafkan. Saya akan selesaikan secara hukum. Saya akan menggunakan segala potensi yang saya miliki untuk menyelesaikan kasus ini hingga ke pengadilan," katanya. Dia juga sudah melaporkan kasus ini ke polisi.

Mahasiswa UMI Minta Maaf

Pengurus Lembaga Mahasiswa (Lema) Se-UMI menggelar konferensi pers di depan gedung Kedokteran Kampus II UMI, atas iniden pemukulan salah seorang pengguna jalan saat memperingati Amarah, Selasa (24/4).
Dalam kesempatan tersebut mereka menyampaikan tuntutan sikapnya, sekaligus permohonan maaf atas insiden kekerasan yang terjadi."Aksi ini kami hentikan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Massa sulit dikontrol lagi. Kami juga meminta maaf kepada keluarga korban Amarah dan kepada pihak yang menjadi korban dalam insiden yang terjadi," kata perwakilan pengurus Lema Se-UMI, Firman.
Dalam tuntutannya para mahasiswa meminta kepada Presiden RI untuk menegaskan bentuk keprihatinan terhadap Amarah, dan menjadikan kekerasan dalam dunia pendidikan sebagai agenda nasional.
Mereka juga meminta kepada Komnas HAM untuk membentuk tim independen penyelesaian kasus tersebut. Amarah merupakan tragedi yang terjadi 24 April 1996 di UMI. Saat itu, mahasiswa yang melakukan demonstrasi besar-besaran menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang disusul aksi penolakan tarif petepete yang berimbas bentrokan dan penyerangan yang melibatkan TNI-Polri.
Kejadian ini menyebabkan tiga orang mahasiswa UMI meninggal dunia yakni Almarhum Andi Sultan Iskandar (Fakultas Ekonomi), Syaiful Bya (teknik arsitektur), dan Tashrif (fakultas ekonomi).

kesaksian Prof Dr Mappajantji

Saya sudah lima hari lalu di Medical Centre RS Wahidin. Karena om istri saya meninggal, makanya saya keluar untuk melayat dengan masih memakai infus, oksigen, dan didampingi perawat. Setelah pulang dari melayat di Jl Kajaolalido, itu insiden ini terjadi.
Ketika melewati kampus UMI mobil kami dicegat dan diminta melewati jalur petepete di sebelah kiri.Tapi pas sampai di ujung (pintu II) kami kembali dicegat oleh mahasiswa, padahal saya sudah menunjukkan bahwa ini kondisi darurat.
Makanya perawat saya turun memberikan penjelasan tapi mereka tidak mau mengerti dan malah semakin memalang mobil kami dan memasang muka marah. Anak saya turun dan berusaha membongkar palang, langsung dikeroyok.
Saya kemudian dikelilingi mahasiswa, hampir juga kena pukulan dari mahasiswa dan untungnya saya masih sempat menangkis. Itu mungkin yang menyebakan tali infus saya jatuh.
Kejadian ini jelas tidak bisa dibiarkan mereka sudah seenaknya dan sewenang-wenang kepada kami, itu kan jalan umum jadi kenapa ditutup-tutup.

*Prof Dr Mappajantji Amin, ayah korban (cr5)

Yasanto tentang Pilgub Sulsel 2007

April 11th, 2007 by maqbulhalim

From: Maqbul Yahoo [mailto:maqbulsaja@yahoo.co.uk]
Sent: 12 April 2007 12:41
To: ‘Beny Andri Yasanto MH’
Subject: RE: pilkadaL sulsel 07
Dear Bung Yasanto,
Saya tertarik dengan pertanyaan anda di bagian akhir posting email. Alasan saya tertarik adalah sulitnya mengukur sikap bagi seorang calon pemilih dalam memutuskan alasan untuk memilih salah satu dari sekian calon gubernur yang saat ini tengah melakonkan kebaikan dan janji-janjinya. Sejauh ini, saya sendiri tidak pernah berpikir tentang siapa calon terbaik atau layak bagi saya untuk dipilih. Saya hanya berpikir tentang betapa nihilnya hasil demokrtisasi di Sulawesi Selatan yang bisa disaksikan menjelang Pilgub Nopember 2007 mendatang. Termasuk yang Yasanto katakan bahwa jangan-jangan minimnya nalon yang ada untuk Pilgub Sulsel 2007 adalah suatu langkah mundur bagi gerak demokratisasi di Sulawesi Selatan.
Tetapi pada sisi lain, saya kerap terperosok berpikir sendiri tentang kondisi-kondisi calon, selain memikirkan arti calon gubernur yang akan dipilih langsung itu. Beberapa hari silam, saya keluhkan kepada kawan-kawan saya di Warkop Phoenam bahwa apakah sekarang belum waktunya bagi kawan-kawan yang pernah dan tengah memperjuangkan demokrasi di Sulawesi Selatan untuk memberi perhatian (pay attention) terhadap jumlah figur yang mampu ditawarkan oleh demokrasi Pilgub Sulsel 2007. Kawan saya, Khudri Arsyad yang juga koordinator FIK-Ornop agaknya membenarkan. Ia melihat Pilgub Sulsel 2007 adalah puncak demokrasi di Sulawesi Selatan. Saya pun kemudian bertanya, inikah puncak demokrasi yang yang dirajut oleh kawan-kawan, termasuk kelompok Ornop, sejak tahun 1970-an di Sulawesi Selatan?
Meski demikian, saya juga tidak bisa memungkiri bahwa soal nihil atau tidaknya jumlah calon yang ditawarkan demokrasi Pilgub Sulsel 2007 adalah masalah partai itu sendiri. Merekalah, partai-partai itu, yang sesungguhnya menjadi tumpuan warga Sulsel untuk meluaskan wilayah pilihan-pilihan pada Pilgub Sulsel 2007. Justru mereka yang diharapkan dapat mengagregasi harapan-harapan demokrasi menjelang Pilgub Sulsel 2007. Itulah bayangan saya tentang tentang tanggung jawab partai politik dalam hal ini. Saya sendiri secara pribadi menuai kekecewaan atas fenomena terakhir opini publik yang berkembang, bahwa seakan hanya dua orang di Sulsel yang patut menjadi calon gubernur dan menjadi gubernur nantinya.
Apapun keluhan saya terhadap situasi terakhir menjelang Pilgub Sulsel Nopember 2007, silakan Yasanto buka blog saya di http://maqbulhalim.blogs.friendster.com/my_blog/2007/03/pilgub_sulsel.html atau di http://maqbulhalim.blogspot.com. Saya kira itu saja dulu, saya senang mendapatkan pertanyaan seperti ini.
Wassalam
Maqbul Halim


From: Beny Andri Yasanto MH [mailto:b_andri_yasanto_mh@yahoo.co.id]
Sent: 12 April 2007 0:38
To: maqbulsaja@yahoo.co.uk
Subject: pilkadaL sulsel 07
salam
saya mahasiswa UMI,
pilgub sulsel sebentar lagi akan berlangsung, namun banyak hal yang masih memusingkan kepala saya, terkait dengan mendukung pilgub ini atau tidak. untuk itu saya meminta tanggapan anda atas masalah2 tersebut.
apakah dengan pilgub secara langsung ini merupakan langkah maju bagi demokratisasi lokal atau malah berjalan ditempat, terkait dengan minimnya calon yang ada ?
menurut anda mana yang harus diutamakan dalam melakukan pemilihan, melihat figur tokoh tersebut atau visi-misinya?
atas waktunya terima kasih
salam 

Rezeki Ketiga

April 7th, 2007 by maqbulhalim

Hari minggu, 1 April 2007, saya menunggu di ruang lobby Rumah Sakit Bersalin BUDI MULYA. Hari itu adalah malam di Makassar ketika sedang menanti kelahiran anak saya yang ketiga. Istri saya, Azharia Harun, diliputi rasa cemas malam itu. Sebuah kecemasan yang telah ia jalani sejak empat bulan silam. Ia cemas bukan karena rasa sakit dan perih melahirkan seperti yang ia alami ketika melahirkan anak pertama dan kedua. Tapi ada ketakutan yang ia desain sendiri, dan pikiran-pikiran bergerak dari ketakutan itu.

Ia terbaring di ruang persalinan malam itu sejak pukul 17.00. Saya mendapat kesempatan masuk ruang persalinan dan berbicara dengannya tentang beberapa hal. Ia mengeluh bahwa induksi atau obat perangsang yang telah dipasang sejak tiga jam silam, belum memberi tanda-tanda adanya gerak dari pembukaan dua yang telah berjalan sejak pertama diberi rangsangan. Ia punya pengalaman ketika melahirkan anaknya yang pertama, Abi. Setelah induksi, pembukaan demi pembukaan bergerak terus, meski lamat dan ia mengaku bosan ketika itu.

Menurut dokternya, dr. Wati (itu panggilan akrabnya), induksi itu akan memakan waktu lama. Ia memperkirakan bahwa bayi saya akan lahir paling cepat subuh hari (Senin pagi, 2 April 2007). Kemungkinan untuk melahirkan pada pagi hari juga ada. Istriku memikirkan derita sakit yang amat sangat akibat induksi ketika melahirkan anak pertama, Abi. Ketika itu, akhir Mei 2004, ia betul-betul merasakan sakit akibat induksi hingga pukul 04.15 wita. Ia menderita sakit akibat induksi itu selama 13 jam. Itulah yang istriku bayangkan saat hendak melahirkan anak saya yang ketiga ini. Mental saya pun sempat tertekan ketika memikirkan pengalaman empat tahun silam itu.

Karena kecemasan itu, istriku meminta saya untuk mencarikan obat-obat tradisional yang bersifat alternatif agar persalinanannya lancar. Ia meminta agar saya menghubungi tetangga di rumah lama Tidung yang akan mengantar saya menghubungi seorang dukun. Saya merasa, istri saya sangat serius membutuhkan. Meskipun saya ragu, apakah kebutuhan itu keluar dari pikiran murni istriku. Bukankah ia sedang mengalami masa-masa yang tidak normal sehingga impropisasi kejiwaannya menggiring ke wilayah yang menurut pikiran sehat sesungguhnya tidak diperlukan. Artinya, ia tidak perlu dukun bila pikirannya sehat.

Ia, anak saya yang ketiga tersebut menurut pengakuan suster dan istri saya sendiri, lahir pukul 22.25 menit hari itu juga. "Bayinya seberat 3,1 kilogram dan panjang 51 centimeter," kata dokter Wati setelah keluar dari ruang persalinan.

******

Awalnya, oleh Uminya, bayi ini hendak diberi nama Fachry. Lalu saya usul Fakhrul dan dia setuju. Nama tenganya adalah Gumawan. Dengan demikian, nama lengkapnya adalah Fakhrul Gumawan Maqbul dengan nama sapaan Agu. Nama sapaan ini segaja saya miripkan dengan kakaknya sebelumnya. Mohammed Chalaby Syaukano Maqbul disapa Abi dan Pateddungi Topanrita disapa Ato. Karena mereka sudah bertiga, saya dengan mudah memanggilnya sekali dengan kata panggilan BITOGU.

Sang Menteri

April 1st, 2007 by maqbulhalim

Makassar, 07 Januari 2004

Setiap hari, saya selalu menunggu datangnya kabar itu. Saya sadar, tindakan ini bisa diibaratkan menunggu sinar mentari pagi di sore hari. Sebuah penantian yang nyaris tanpa beda dengan harapan dari sebuah perjudian. Tapi jejak-jejak yang ada telah banyak memberi tahu. Saya menunggu dan hari yang ditunggu hanya perkara waktu yang belum ketemu.

Sejak Januari 2006, saya telah memilih keyakinan ini. Sesuatu akan datang, dan beberapa kawan saya mendapati situasi yang buruk. Mereka seperti ayam kehilangan induk. Mereka tiba-tiba terdesak dan harus menghapus jejak perkawannya dengan sang menteri. Sang menteri memang belum menjerit. Ia percaya diri, yakin, tak gentar, kokoh.

Hari ini (7/02/06), saya membaca kembali tanda-tanda kabar yang akan tiba itu. Meski saya sendiri tidak tahu, kapan persisnya kabar itu betul-betul tiba. Tapi hari ini, saya memang merasakan desakan itu. Pengacara Daan mendesak KPK agar melanjutkan kasus dugaan korupsi dalam pencetakan kertas segel Pemilu Presiden Pertama dan Kedua. Saya memikirkan teman yang baru saja pindah ke Jakarta. Apa gerangan ia ketika sang menteri betul-betul benjol akibat isu korupsi kertas segel ini.

Kira-kira setahun silam, saya mencoba mendapatkan tanggapan dari Boby (Ahmad Abdullah, mantan pegawai KPU Sulsel). Saya katakan padanya bahwa situasi sulit bakal ditemui sang menteri adalah benar. Saya juga membeberakan beberapa personal garanted yang merupakan sumber informasi itu. Ia mengaku bahwa saya lebih mengetahui dari pada dirinya. Begitu pula, saya lebih berjarak dekat untuk mengabarkan itu ketimbang dirinya. Pendapat itu saya akui, tapi saya juga menyatakan bahwa saya telah melakukan itu. Satu-satunya yang belum saya lakukan adalah bahwa saya hanya mengabarkan kepada orang-orangnya pada lingkaran dekat. Sang menteri masih jauh, selain juga bahwa ia tidak perlu memikirkan apa yang saya khawatirkan.

"Anda lebih dekat dengan Hamid, kan! Sampaikanlah itu," kata Boby di warung kopi Phoenam Makassar waktu itu.

Kurang lebih setahun sebelum saya beberkan gosip itu kepada Boby, saya telah bercerita kepada Tomi. Ketika itu, Tomi menganggap saya sudah berubah karakter dan karena itu saya pun dapat dikuasai oleh gosip. Terus terang, saya tidak mempunyai cukup alasan ketika itu untuk membantah pandangannya terhadap kondisi faktual diri saya. Ya, ia telah menilaiku demikian. Tetapi saya tidak setuju kalau keyakinanku dinilai.

"Kalau orang-orang bisa ditersangkakan menurut Gosip, kita semua ini pada akhirnya akan menjadi tersangka," kata Tomi pada saya ketika itu.

Saya terdiam usai Tomi mengatakan itu. Ia telah lama bergaul dan berkelut dengan politisi dan pengusaha kawakan sebagai wartawan TEMPO Majalah. Menurutku, tidak ada yang salah dari pernyataannya itu.
*****

Di Rakyat Merdeka, salah koran harian yang terbit di Jakarta, saya membaca serial penyergapan Mulyana W. Kusuma oleh tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hamzah, seorang mahasiswa S3 di bidang hukum Universitas Indonesia, bercerita bahwa Mulyana itu hanya gerakan pembuka.

"Jika sembilan anggota KPU diminta berbaris, mereka akan menyerupai pagar," kata Hamzah.

"Pagar itu akan dipasang di hadapan penyidik KPK. Mulyana hanya sebilah anak pagar itu," kata Hamzah melanjutkan.

Mendengar cerita itu, Tomi hanya berujar, "Itu tidak jelas dan tidak mendasar."

Sejak itu hingga lima bulan kemudian, bagaikan seekor Banten marah, KPK menyeruduk beberapa anggota KPU. Ibarat mencabut rumuput, KPK menggilir anggota KPU satu demi satu. Termasuk sang menteri, yang selama ini diternakkan oleh Jusuf Kalla. Termasuk Anas Urbaningrum, ternak Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

****

Tomi tidak memberi tanggapan pada lima bulan setelah penyergapan Mulyana dan pemanggilan sang menteri sebagai saksi pada kasus kertas segel di KPU. Saya sendiri berharap, semoga Tomi tidak berniat menyembunyikan kecemasannya. Ia memiliki informasi yang lebih baik dan karena itu pula, ia tidak perlu khawatir.

Untuk masalah sang menteri ini, mungkin saya telah mendapatkan sekutu. Setelah ia dimutasi dari KPU Sulsel menjadi kepada Dispenda Kab. Gowa, Boby berterus terang kepada saya bahwa ia mulai cemas. Saya berpikir bahwa Bobi sudah berpikir seperti saya berpikir. Tapi saya belum tahu, apakah Bobi ingin melakukan sesuatu seperti yang saya inginkan dalam pikiran saya.

Saya sendiri sudah berada sangat jauh. Saya pun telah kehilangan berbagai alasan agar dapat membicarakan berbagai hal dengan Tomi. Tomi juga sudah larut, bukan hanyut. Menurut Tomi, ia juga sudah terletak jauh dari sang menteri.

****

Hari ini, sang menteri juga mulai sadar dengan berbagai sesumbarnya selama ini. Sebagai menteri, retorikanya yang selama ini menjadi kekhasannya, lumpuh tak berdaya. Sang menteri memang berusaha menjejalkan argumen dari sikap percaya dirinya. Tetapi ternyata itu tidak banyak membantu. Ia tetap terlihat kerdil bersama argumennya.

Sang menteri tidak optimis dengan kasus itu, ia hanya percaya diri (self esteem). Ia masih berhadapan dengan masa depannya sebagai anggota kabinet SBY-JK. Ia terus bergerak. Dari Helsinsky hingga meja sidang umum PBB. Ia terus memperpanjang kisahnya di tengah himpitan kesulitan, mungkin juga "teror". Dari sebuah "teror", ia tetap mengaku tidak takut. Kalau pun sang menteri takut, ia selalu memahami ketakutannya secara prosedural. Sang menteri memang sangat pragmatis, tetapi juga sistematis.

Sebelum ia disebut sang menteri, ia memang pernah menjadi sebuah masalah ketika perancangan personel kabinet SBY-JK. JK adalah fakta politik ketika itu. Ia adalah bagian fakta politik JK. Di ujung kebingungan, SBY memutuskan: SBY tidak ingin melawan fakta politik JK. Sang menteri sendiri menemukan dirinya ceria dan girang, hanya beberapa detik setelah ia murung dan cemas. Sang menteri geram di ruang kerjanya di KPU. Nun di Istana, dirinya sedang diperbincangkan. Dan, sang menteri memang berakhir bahagia pada malam itu.

Saya masih di Bandung, ketika sang menteri bersama Tomi, Zainal, dan Aidir melancarkan doa tanpa ampun dan jedah kepada Tuhan. Doa itu memang kepada Tuhan, tapi SBY-lah yang mengabulkan. Di hadapan SBY-JK, bagi sang menteri, Tuhan mungkin adalah cerita lain.

Saya dan Suwaib duduk di salah satu kafe di bilangan Dago, Bandung ketika itu. Saya memesan jus alpukat. Desingan alunan musik dari para amatiran di ujung pelataran kafe terdengar datar. Saya memang tidak sempat berujar tentang musik itu lebih banyak. Saya diam-diam dari hati yang kurang becus, melepaskan harapan dalam bentuk doa untuk sang menteri. Bukan agar ia betul-betul jadi menteri, tetapi agar ia tidak takut kecewa. Tegar menerima kepahitan. Tidak gugup ketika ia betul-betul jadi seorang menteri.

Dari alunan musik yang membuatku pening, saya membatin bahwa apa yang telah saya lakukan memang berdoa. Tapi, doa tidak mesti kepada Tuhan karena kata padanan untuk doa adalah harapan. Andaikan pada malam itu saya berterus terang, doa yang saya selipkan diam-diam itu bukan untuk Tuhan, tetapi kepada SBY. Kita pun juga tahu bahwa SBY tidak bisa mendengar doa secara diam-diam dari kejauhan seperti halnya Tuhan.

Sebelum beranjak dari kafe itu, saya akhirnya sadar bahwa kini jarak itu mulai terentang. Lingkungan interaksi sang menteri akan beranjak ke permukaan yang lebih luas, sebuah permukaan yang sarat dengan gengsi, keangkuhan virtual, dan terus terpendam di balik tembok jabatan. Sang menteri akan menciptakan dirinya yang betul-betul membuat Daan Dimara terhempas dengan rasa pertemanan yang lumat dan lantak. Di permukaan itu, Nazaruddin Syamsuddin merasakan dirinya sebagai mahluk terasing di depan mahkamah kabinet SBY-JK, kabinet yang menjolorkan sang menteri sebagai tombak yang cuek dan bengis.

Tema utama masa silam sang menteri adalah keteguhan, kukuh, ulet, sekaligus cerdas, lincah, dan piawai. Syahrir Makkuradde, mentor sang menteri pada berbagai hal ketika masih mahasiswa di Unhas, mengaku telah melihat sesuatu yang tidak lazim pada diri sang menteri itu ketika itu. Ia, kata Syahrir, kerap mengkonsultasikan kekurangannya. Syahrir mengistilahkan sang menteri seperti pendaki yang tak pernah turun, yang hanya terus bergerak ke atas, tetapi tidak memastikan puncak yang sesungguhnya yang hendak ia gapai. Syahrir menduga, sang menteri mungkin tidak pernah berpikir tentang tangga turun.

Saat ini, ia seorang menteri. Sebuah status yang pernah mampir sebagai cita-cita pada diri Achmad Amiruddin (mantan Gub Sulsel), Marwah Daud Ibrahim (Anggota DPR RI dari Sulsel), Achmad Ali (Dosen Hukum Unhas), dan lain-lain. Sang menteri mungkin tidak pernah mendamba akan status itu, ia hanya bergerak belaka ke atas. Ketika saya ngobrol dengan sang menteri pada pertengahan 2000 di tepi kolam renang PMCC Makassar, saya sendiri tidak berpikir tentang status menteri itu dan dirinya. Hingga pangkal 2004, Aidir, Uki, Tomi, Jeffry, Enal, dan yang lainnya, juga tak pernah berpikir bahwa pria kelahiran Parepare ini bakal jadi seorang menteri.

"Kalau anda punya bakat menulis, kisah kelihanganmu dapat diabadikan. Jangan sia-siakan," pesan kepada saya ketika beranjak ke shower membasuh tubuhnya. Saya mengangguk, tetapi bukan tanda setuju.

Sebelum sang menteri kembali ke Indonesia tahun 1998, Kota Makassar dihebohkan oleh kabar tentang kehilangan saya yang dikaitkan dengan kegiatan penculikan yang dilakukan oleh militer Indonesia. Sang menteri telah mengetahui sedikit tentang hal itu. Tapi ia tidak paham betul.

Menurut Syahrir, sang menteri ketika masih mahasiswa memang telah menunjukkan selektivitasnya dalam bergaul. Sang menteri rela menjadi penenteng tas sang rektor Unhas, A. Amiruddin, ketimbang hidup bersama mahasiswa yang miskin gagasan dan tidak cerdas pula. Ia sering menceburkan dirinya ke arena diskusi para petinggi Unhas, aktivis pentolan Dewan Mahasiswa, dan secara inisiatif menjadi juru bicara rektor terhadap tokoh mahasiswa oposan di Unhas.

"Ia mempunyai kisah dan risalah kemahasiswa yang ia ciptakan sendiri. Ia peniru tetapi tidak menyerupai yang ditiru," kata Syahrir.

*****

Hamid1"Ia terbilang mahasiswa yang belum kenal apa-apa dan tidak dikenal. Saya juga heran ketika itu karena ia tiba-tiba cukup akrab dan familiar dengan saya," ujar Syahrir mengenang.

Syahrir punya beberapa koleksi kenangan bersama junior uniknya ini. Terutama ketika mereka aktif beraktivitas di Dewan Mahasiswa (Dema) Unhas dan Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unhas. Surat Kabar kampus IDENTITAS membuat Syahrir dan menteri ini juga tidak bisa saling melupakan. Dari beberapa orang, saya mendengar dan kemudian tahu bahwa Syahrir bukan senior sang menteri belaka, tatapi Syahrir juga seorang guru sang menteri sekaligus orang yang sebaiknya diwaspadai.

Syahrir memang mengaku berikali-kali menggunakan sang menteri untuk berkomunikasi dengan rektor Unhas, A. Amiruddin. Pasalnya, aktivis-aktivis Unhas ketika itu menganggap sangat tidak penting berkomunikasi dengan rektor, perpanjangan tangan Orde Baru di kampus-kampus perguruan tinggi. Sang menteri sendiri mampu menyingkirkan sekat para aktivis dari dirinya, bergitu pula sekat rektor dari dirinya. Sang menteri, kata Syahrir, terus bergerak dan leluasa.

"Ia mengalahkan A. Amiruddin, dirinya lebih menyerupai Rektor dari pada A. Amiruddin itu sendiri," kata Syahrir berusaha mengenang kehidupannya sebagai aktivis Unhas di kampus Baraya sekitar pertengahan tahun 1970-an.

*****

Selama ia melakoni jabatan menterinya, sang menteri selalu terserempet peluru pelumat korupsi. Ia belum jauh dari mulut KPK, kini sang menteri hendak diikutkan dalam kendaraan Yusril Ihza Mahendra untuk bertabrakan dengan KPK. Hari ini (Jumat, 23 Feb 2007)pers mengabarkan bahwa menurut Yusril, Hamid cukup efektif untuk ditanyai tentang pelaksanaan proyek pengadaan alat sidik jari di kantor Departemen Dephukham.

Kira-kira lebih seminggu lalu, saya ketemu dengan H. Aidir Amin Daud di pesawat Lion yang membawa kami ke Soekarno Hatta Jakarta dan tiba di Cengkareng pukul 23.30 wib. Saya kemukakan padanya di Bandara Hasanuddin bahwa Finger Print yang diadakan oleh Dephukham dan sekarang sementara dalam penjajakan KPK, ada kemungkinan terkait dengan sang menteri. Aidir mengatakan bahwa itu menyalahi logika.

"Tak ada urusannya (sang menteri) di situ. Itu urusan Pak Yusril. Tapi saya kira, pak Yusril itu mengetahui sesuatu, dan dia mungkin banyak tahu tentang hal finger print itu," kata Aidir.

Saya merasakan sendiri, Aidir tidak sungkan dan gagap menanggapi pertanyaan itu. Di sekeliling tempat duduk di ruang tunggu keberangkatan Bandara Hasanuddin sedang berangsur sepi. Tetapi di seputaran kursi tempat kami berbincang, calon penumpang lain sedang duduk menunggu. Menurut saya, suara kami dalam berbincang pasti terdengar dengan baik oleh mereka. Aidir tidak memikirkan itu barangkali. Ia tetap saja berbicara ceplas-ceplos. Beberapa orang di sekitar kami ketika itu memang sempat menoleh keheranan. Ia mungkin heran kami sangat serius berdebat.

Beberapa kali saya menurunkan volume suara saya, tapi Aidir dengan suaranya yang nyaring. Ketika saya tidak berhasil, saya pun ikut bersuara nyaring. Banyak hal yang kami perdebatkan dan tidak membuat orang-orang disekitar kami penasaran. Yang membuat mereka melongo kepada kami adalah ketika kami menyebut-nyebut nama sang menteri. Ketika kami sadar bahwa pembicaraan kami diintip-dengar oleh orang-orang sekitar kami, kami langsung menurunkan volume dan kembali star dengan suara berbisik. Selalu saja begikut, tidak sampai satu menit kemudian, suara kami sudah kembali nyaring.

*****

"Kota (Makassar) ini sangat beruntung, karena ada PMCC yang memiliki fasilitas salon seperti yang sering melayani saya ketika di Washington DC," kata sang menteri.

"Anda bisa membayangkan, andaikan tidak ada fasilitas seperti ini di kota ini, berapa kali sebulan ke Jakarta hanya untuk merapikan rambut saya," katanya.

*****

Hari itu, Syarif meminta tolong ke saya untuk menemaninya ke Bandara Hasanuddin untuk menjemput sang menteri. Ia punya informasi bahwa sang menteri akan tiba hari ini (25 Maret 2001) pukul 15.00 WITA. Saya sendiri tidak bisa langsung memberi persetujuan. Mendengar permintaan itu, saya masih tetap menatap layar monitor komputer. Saya meminta waktu sekitar lima menit untuk memeriksa pekerjaanku, apa bisa saya tinggalkan semantara dan dapat saya lanjutkan kemudian, atau tidak.

Setelah saya memeriksa bagian demi bagian naskah proposal yang telah saya kerjakan, untuk bagian hari ini yang telah selesai itu, saya menganggap bahwa pekerjaan ini dapat saya tinggalkan. Pekerjaan tidak lagi menjadi masalah untuk membantu menemani Syarif.

Terjangan angin berbaur rintik hujan menghempas dedaunan yang terhampar di permukaan aspal jalanan menuju parkir bandara Hasanuddin. Hujan memang hanya turun rintik, tetapi sebagian besar pengunjung dan pengguna jasa bandara memilih tidak mengambil resiko untuk menembus hujan rintik.

Dengan mobil model van merek Suzuki Carry tahun 1980-an, Syarief Amir berhasil menembus gerimis campur angin itu hingga berhenti di tempat parkir menunggu jemputan di pelataran apron kedatangan penumpang. Saya duduk di jok depan, di samping Syarif. Kami tidak berhasil berhenti tepat di bibir atap teras apron karena terhalang oleh mobil-mobil yang lebih dahulu memarkir. Karena pesawat sang menteri yang akan kami jemput belum tiba, maka saya dan Syarif meninggalkan mobil yang setahun silam (1999) dibeli oleh Syarif seharga Rp 3,5 juta ini. Kami tak menggunakan payung meninggalkan mobil karena memang tidak ada. Lagi pula hanya rintik hujan yang akan kami lalui.

Selang 10 menit setelah tiba di ruang jemput, bandara mengumumkan bahwa pesawat Garuda dari Jakarta tujuan Makassar telah tiba. Saya menengok jam dinding di atas pintu keluar ruang jemput, jam menunjukkan pukul 15.46 WITA. Mendengar pengumuman itu, Syarif melangkah ke bagian pintu yang berukuran lebar empat meter, dimana penumpang pesawat yang baru saja tiba akan melewati pintu itu menuju ke ruang jemput sebelum mencapai parkir mobil jemputan.

Bukan kedatangan sang menteri yang kupikirkan, tetapi mobil syarif yang saya anggap sangat sederhana dan nyaris tidak bisa menawarkan kenyamanan. Letak mesin mobil tepat di bawah jok tempat duduk di depan. Busa jok mobil sudah menipis dan usang. Jika mesin panas, hawa panas itu dan sedikit asap mesin menerobos menembus jok kursi dan kemudian mejalar ke seluruh bagian dalam mobil. Hanya jendela yang terbuka yang biasanya memberi sedikit jeda untuk bernafas dengan udara yang relatif bersih yang berhembus dari luar. Kita biasanya ketiban sial ketika mengendarai mobil sambil hujan sedang mengguyur. Saya pernah mengalami itu di mobil ini, membuka jendela berarti bisa bernafas dengan udara bersih tapi sekaligus basah kuyup karena terjangan air dari jendela mobil yang terbuka. Sementara jika jendela mobil ditutup supaya air hujan tidak masuk, berarti kita akan bergelimang asap dan panas mesin yang terus berputar dan kian tebal di dalam mobil. Memilih salah satunya, membuka jendela atau menutup ketika hujan turun, adalah pilihan yang kedua-duanya tidak memberi kenyamanan.

Kata Syarif sendiri berdasarkan keterangan pemiliknya sebelum dibeli, jok mobil itu belum pernah diganti. Pintu tengah samping kiri dan pintu depan kiri harus dibuka dari luar karena rusak. Sementara jendela mobil harus dibuka-tutup dengan menjepitnya pakai dua telapak tangan. Regulator semua pintu kacara jendela sudah rusak juga. Kaca jendelanya kusam, kabur, dan tidak memungkinkan melihat obyek di luar mobil dengan jelas dan terang.

Di kemudian hari (Maret 2007), saya kembali dipanikkan oleh kabar transfer uang Tomi Soeharto ke rekening kementerian kehakiman dan HAM. Lalu, selain nama Yusril Ihza Mahendra, ada juga nama Hamid Awaluddin yang disebut-sebut menjadi inspirator atas transfer itu. Kedua orang ini, kira-kira bakal jadi "HINA" manakala transferan itu terkait dengan upaya suap Tomi atau bagian dari praktek korupsi.

Kabar ini seperti badai yang bermusim secara berjadwal. Tapi musim kabar buruk Sang Menteri kali ini cukup serius. Bukan soal pemerikaan atas penggunaan rekening pemerintah dalam menada uang Tommy dari Bank Paritas Inggris dalam konteks korupsi. Tetapi ia berhadapan dengan desakan publik agar ia mengundurkan diri dari jabatan menterinya. Banyak pihak yang meyakini bahwa nama Sang Menteri ini termasuk salah seorang yang tergilas oleh reshuffle kabinet SBY-JK jilid dua ini.

Sabtu pagi (5/05/07) di rumah ketika berkumpul dengan anak-anak, saya menanyakan kabar itu kepada Kak Aidir. "Hamid digantikan A. Mattalatta. Begitu kata berita. Benarkah?" tulis SMS saya kepada nomor celluler Kak Aidir. Berselang seperempat jam kemudian, handset saya berdering menerima panggilan dari nomor Kak Aidir. Ia seperti berkeluh. Mantan Ketua KPU Sulsel ini berani memastikan bahwa Sang Menteri ikut tergilas oleh roda reshuffle kabinet jilid dua ini.

"Kenapa Pak Aidir bisa memastikan itu?" tanya istriku.

"Paling tidak, ia berada di Jakarta ketika semua pihak sibuk berbisik tentang reshuffle. Kalau komunikasi dengan Jusuf Kalla agak sulit, tentu kepada Kak Aidirlah, Sang Menteri meluangkan curhatnya," jawabku.

Istriku berharap bahwa kepastian yang diumbar Kak Aidir itu betul-betul salah, alias tidak benar. Saya juga yakin, saya dan teman-teman yang lain pun berharap besar agar roda itu patah ketika sebelum menggilas Sang Menteri. Saya dan mereka semua hanya gampangan meletakkan harapan positif. Di luar sana, arus informasi negatif tentang penggantian Sang Menteri kian menekan. Pergantian beliau seakan mengobati dahaga haus orang yang memperbincangkannya. Sebuah permakzulan yang tak pernah sepi diperdebatkan para analis di Warkop Phoenam atau KopiZone Makassar.

Tiga hari menjelang pengumuman itu, kabar tentang bakal tibanya kisah disscard Sang Menteri dari jabatannya kian meyakinkan. Melalui SMS, saya berusaha menyegarkan kembali ingatan Boby (mantan bendahara KPU Sulsel) bahwa saat-saat akan kehilangan jabatan Sang Menteri secara tidak diinginkan itu adalah benar-benar ada. Awal Maret 2007, saya ingatkan masa-masa itu kepada Boby. Saya tahu, Boby tidak senang dengan prediksi saya. Ia malah menyesalkan saya berpikir seperti itu dan malah meminta saya sebagai teman agar berdoa supaya Sang Menteri sukses dengan jabatan yang sedang disandangnya ketika itu.

Tapi, siapa yang bisa melawan angin? Doa mana pula yang bisa mencegah SBY bertekad menggilas Hamid? Kata Kak Aidir, "Apalah kami ini!"